Manusia
Pada akhirnya, semua adalah tentang keseimbangan. Aku seorang extrovert dan aku mencintai buku sama baiknya dengan mencintai manusia. Yang perlu dilakukan oleh kita hanyalah memberikan masing-masing, tempat dan waktunya.
Kita harus paham kapan waktunya bersosialisasi dan kapan waktunya menyendiri dan berkontemplasi, paham kapan bercengkrama dengan buku dan kapan berakrab ria dengan manusia. Menurutku parameternya adalah kebermanfaatan. ketika dihadapkan pada dua yaitu buku dan manusia, pilih yang paling bermanfaat saat itu. Karena tak semua buku baik, dan tak semua manusia pun baik, dan setiap kebaikan punya tingkatan yang berbeda-beda, pun waktu dan tempat yang berbeda.
Introvert maupun Extrovert seharusnya tak menjadi penghalang bahkan pembenar atas tindakan kita yang mungkin merugikan diri dan sekitar. Karena pada akhirnya kita tak bisa hidup sendiri dan tak bisa hidup tanpa diri.
Jadikan Rasulullah adalah teladan dan parameter setiap lini kehidupan, kita bisa melihat bagaimana beliau adalah sosok pemikir yang mencintai kesendirian dengan pergi ke gua Hira, tapi juga dikenal sebegitu dahsyatnya karena pintar bergaul dengan sesama, sahabatnya banyak tak terhitung dan setia. Beliau menyadari bahwa ada dua kewajiban yang harus beliau tunaikan, kewajiban pada diri sendiri dan kewajiban pada masyarakat. Kesimpulannya adalah bahwa keseimbangan adalah kunci bahagia.
Komentar
Posting Komentar